Isinya...
Dearest, Vha
Hanya 2 hal utama saja yang ingin ku sampaikan.
Maaf dan terimakasih.
Hanya itu sebenarnya.
Maaf telah pergi dan menghilang.
Aku hanya kembali ke rumah orang tuaku.
Sejak kejadian itu, aku pergi dari rumah dan memutuskan ikut tinggal dengan saudaraku yang se-kota denganmu.
Hanya agar aku dapat bersamamu, melihatmu.
Perasaan untuk bersamamu amat kuat. Aku tak tau mengapa. Meskipun saat itu umur kita terbilang masih balita. Hahaha.
Tapi kemudian, aku mendapat kabar bahwa ayahku sedang berada pada kondisi, dimana aku mau-tidak mau harus berada mendampinginya.
Aku hanya tak ingin kamu tau.
Bahwa aku pergi.
Aku tau hal itu hanya membuat kamu semakin merasa kehilangan nantinya.
Beberapa saat lalu, aku mengalami kejadian yang sama denganmu dulu.
Untungnya aku masih sempat bernafas.
Tapi aku tau, nafas ini hanya akan berlangsung sesaat.
Dan sudah ku terima takdirku.
Ku sempatkan meminta tolong karyawan rumah sakit untuk membantuku menuliskan surat ini dan menyampaikannya padamu saat kau kembali dapat melihat dunia.
Setidaknya, ada satu hal yang dapat ku titipkan pada orang yang ku sayang.
Ku titipkan sepasang mataku padamu.
Dijaga ya?
Jangan diilangin loh?
Hahaha
Hm...
Sudahlah.
Aku tak mau mata milikku basah karena air matamu saat pertama kau gunakan.
Ahya, terimakasih atas semua yang telah kau berikan padaku.
Dapat dipastikan, saat kau membaca surat ini, jantungku berhenti berdetak, nadiku berhenti berdenyut, dan nafasku tak lagi menderu.
Ku titipkan kau pada Bumi. Ia sahabatku. Jadikan ia malaikat penjagamu.
Ku percayakan kau padanya.
Jangan nakal loh!
With love,
Bintang
Air mata meleleh dari sudut matanya. Penyesalan selalu datang terlambat. Bintang hadir saat ia tak dapat melihatnya. Sosok yang begitu baik padanya. Cintanya begitu besar dan tulus. Namun, sekarang, saat ia dapat melihat, justru Bintang pergi dan memberikan sesuatu hal yang teramat berharga.
Matahari adalah salah satu bintang. Tetap menghangatkan apapun dan siapapun. Tak pernah berhenti memberikan sinar hangat. Bintang tetaplah bintang. Walaupun jaraknya begitu jauh, namun cahayanya tetaplah bersinar. Meski tak abadi, namun mampu menghiasi langit malam. Mampu memancarkan sinar berapapun jauhnya. Sekalipun terkadang redup. Satu hal yang ia yakini, Bintang yang satu ini akan selalu bersinar di hari seorang Divha. Ia elah memberikan secercah cahaya asa di hatinya. Dan pada akhirnya, ia memberikan cahaya dan seluruh dunia melalui sepasang matanya. Miliknya yang kini melekat padaku. Harapanku. Selamanya Bintang.
***
That's all. Gitu aja deh. Lagi males ngetik nih. Hahaha. Peace-out!
PS : Tolong siapapun kasi judul buat cerpen ini. Tentunya ini cerpen masih 'sampah'. Butuh beberapa kali edit, mungkin sampai draft 4 baru bisa sedikit 'bersinar'. Just send it via email at : choco.holic296@gmail.com
talita.sagitarani@gmail.com
atawa via FB message : Talita Sagitarani . Formatnya sama. Subject tulis aja : Judul Mantap Buat Cerpen Kurap. Makasih. :DD
Sunday, July 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment