(Okay, readers. Lama gak posting. Gak panjang lebar lagi, nih ada cerpen. Bikinnya kemaren malem. Ngedadak. Ini draft pertama. Belum sempet diedit. Langsung masuk postingan. Daripada blog nganggur. Hahaha. Alrite, check this out, n gimme some comments!)Hitam. Semuanya kelam.
Dunianya benar-benar kekurangan cahaya. Gelap? Tidak! Ada setitik cahaya asa di ujung sana. Hanya saja terlalu jauh untuk digapai. Semua ada pada jarak. Usia, ruang, waktu, hati... Tercipta jarak. Antara dia, Bumi, dan Bintang.
Terhitung sejak hari itu, purnama yang begitu mempesona, namun tak dapat ia nikmati. Di tempat itu, lengang. Senyap. Bumi menemukannya. Memapahnya menuju tempat dimana ia seharusnya berada. Mendampingi kemana saja ia pergi. Menyertai setiap langkah goyahnya. Bumi, tempat ia memijakkan kakinya. Tempat ia berdiri tegak. Menggapai asanya.
Di suatu tempat. Yang lain, jauh sebelum itu. Kali kesembilan, planet ketiga mengelilingi sang surya, sejak tangisan pertamanya. Saat ia masih bisa menikmati semuanya. Menyaksikan deburan ombak, senyum ceria sahabat, melihat indahnya pelangi segera setelah hujan saat itu. Bintang... Datang padanya dalam wujud tak sempurna. Hanya jiwa Bintang yang senantiasa bersamanya. Terpisah antar raga di suatu tempat yang jauh. Tanpa pernah ia melihat sosok Bintang, ia merasa aman. Seakan-akan Bintang selalu ada di sampingnya. Seakan-akan semua terasa nyata.
23 kali revolusi bulan setelahnya, di malam yang begitu dingin, ketika ia menyusuri jalan menuju tempatnya berlindung, dengan kencang sebuah mobil melesat menuju arahnya. Pelaju hilang kendali. Tragedi tak dapat dihindari. Tanpa dapat apa-apa, ia terkapar di jalan beraspal yang masih basah oleh guyuran hujan. Tak ada yang tau apa yang ia rasakan saat itu. Tak ada yang tau bahwa yang ada dalam gelapnya saat itu hanyalah kilatan cahaya yang begitu menyilaukan, benturan yang teramat dahsyat, dan pekikan tajam memilukan. Semua terjadi begitu cepat. Hanya sesaat. Tetapi mampu membuatnya kehilangan banyak hal. Semuanya, bagi dia. Ia kehilangan kemampuan menikmati warna-warna dunia. Sempat ia kehilangan fungsi berpikir cepatnya dan beberapa memori masa lalunya. Ya... Buatnya, saat-saat itulah penyebab semua ini. Membuatnya goyah. Tak lagi dapat bertahan.
Satu-satunya hal yang mampu membuatnya berdiri tegak saat itu hanyalah Bintang. Entah bagaimana caranya Bintang benar-benar berada di sisinya. Yang ia sesali, mengapa tidak dari dulu saja Bintang berada di sisinya? Untuk melindunginya. Mungkin Bintang bisa menghindarkannya dari tragedi saat itu. Namun semua telah terjadi. Setidaknya, sekarang Bintang telah berada di sini untuk membawaku berlari dan terbang. Tak hanya sekedar berdiri dan berjalan, pikirnya. Ia pun melewati hari-harinya dalam kegelapan berteman Bintang, seseorang yang telah menghangatkan hati dan hari-harinya kembali. Memberinya secercah cahaya. Ia telah melihat cahaya itu kini. Di ujung sana. Remang.
Di saat Bintang sesaat menghilang, entah kemana dan apa yang ia lakukan, dia bertemu Bumi. Sepertinya telah ku ceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Bumi. Pertemuan yang begitu singkat. Sesingkat tragedi itu. Dalam waktu yang tak lama pun, ia telah memastikan bahwa Bumi lah yang selama ini ia cari. Sebuah tempat untuk berpijak. Untuk bertahan. Untuk menghempaskan semua bebannya. Membuang semua kesah. Menanamkan setiap asa, menyemainya, dan menyiramnya dengan air penuh doa, dan berharap agar ia dapat menuai hasil seperti yang ia inginkan, atau bahkan lebih. Semua telah benar-benar tepat, batinnya.
Dan, ya! Ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Sesaat lagi, ia akan dapat menuai harapannya dulu. Ia akan menyaksikan pesona bulan kembali. Ada seseorang yang berbaik hati dan begitu mulia, rela menyumbangkan sepasang mata untuk ia kenakan. Bumi kah? Ia tak tahu. Saat-saat menegangkan pun tiba. Tak terdengar suara Bumi sedari tadi. Ia semakin bertanya-tanya dan sedikit timbul keyakinan di hati bahwa benar Bumi lah pendonor itu. Ia telah berada di dalam ruangan itu. Yang telah ia masuki untuk kali kedua. Ia hanya berharap semua berjalan lancar. Dan Bumi juga selamat.
Semuanya kembali gelap. Setitik cahaya itu meredup perlahan hingga akhirnya padam. Ia tak membutuhkannya saat ini. Karena sesaat lagi ia akan mendapatkan yang jauh lebih terang. Lagipula, sejak Bintang menghilang, cahaya itu memang semakin meremang di tiap waktunya.
Saat itu telah tiba. Ia akan kembali melihat. Perlahan ia membuka kain penutup matanya. Berusaha membuka matanya perlahan. Remang. Semakin terang. Putih. Menyilaukan. Dan akhirnya, dengan jelas ia melihat buket bunga di sudut ruangan. Sepasang wajah yang penuh kasih sayang dan teramat ia rindukan. Di samping tempat tidur, terlihat sosok yang begitu mempesona. Dengan energi yang teramat positif. Aura yang begitu sempurna. Siapakah dia? Ia tak tahu. Bumi, kata sosok itu. "Bumi? Mengapa ia masih di sini? Bukankah seharusnya ia tak dapat melihat? Jika benar ini Bumi, siapakah orang yang begitu mulia memberikan sepasang mata yang telah ku kenakan ini? Aku belum sempat mengucapkan apapun padanya?" Ia berargumen dalam alam pikirannya sendiri. Kebiasaannya sejak ia masih berada pada dunia kegelapan itu. Sepucuk surat terselip di antara bunga-bunga anggrek di samping tempat tidurnya. Bunga kesukaannya dulu. Ia baca dalam hati. Perlahan. Cukup lama baginya untuk melakukan hal yang telah bertahun-tahun tak ia kerjakan. Membaca.
Sunday, July 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment